Rabu, 22 September 2010

INFERTILITAS


Infertilitas

Infertilitas adalah keadaan di mana seseorang tidak dapat hamil secara alami atau tidak dapat menjalani kehamilannya secara utuh.

Definisi

Definisi standar infertilitas adalah ketidakmampuan untuk menjadi hamil dalam satu tahun setelah secara teratur menjalani hubungan intim tanpa kontrasepsi

Kesalahpahaman

Menurut Weschler, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang berkesimpulan dirinya infertil, padahal sebenarnya belum tentu demikian:
  • Apabila dalam satu tahun tidak terjadi kehamilan meski menjalani hubungan intim tanpa kontrasepsi.
  • Jika siklus menstruasi tidak teratur. Padahal, tidak semua wanita memiliki siklus 28 hari, dan ovulasi tidak selalu terjadi pada hari ke 14.
  • Dokter terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan frekuensi hubungan intim, dan terburu-buru menerapkan tes-tes yang invasif atau terburu-buru memberikan obat. Padahal, keseringan hubungan intim tidak akan menghasilkan kehamilan apabila dilakukan pada waktu yang tidak tepat. Dokter yang teliti akan mengambil langkah berikut terlebih dahulu:
  • Dokter hanya memfokuskan mengambil solusi berdasarkan kenaikan suhu basal tubuh, dan mengabaikan pengamatan lendir leher rahim. Padahal, kenaikan suhu terjadi pada saat ovum sudah mati, sementara masa subur adalah tepat sebelum kenaikan suhu tersebut terjadi. Lihat menstruasi.
  • Dokter melakukan tes kesuburan pada waktu yang tidak tepat. Contohnya adalah :
    • Penerapan tes pasca-senggama (postcoital test), yang dimaksudkan untuk menganalisa apakah sperma tersebut subur, dan apakah lendir leher rahim wanita kondusif untuk pembuahan. Padahal, jika tes ini dilakukan bukan pada fase subur, tes ini akan invalid. Dan jangan lupa, tidak semua orang mengalami ovulasi pada hari 14 setelah menstruasi.
    • Demikian juga tes biopsi dinding rahim, tidak akan menunjukkan hasil yang baik jika waktunya tidak tepat
  • Alat untuk menentukan masa subur kadang kala tidak tepat:
    • Alat ini biasanya mendeteksi munculnya hormon LH sebelum ovulasi. Padahal, ada wanita yang mengalami sindrom LUFS di mana hormon LH tidak menyebabkan ovulasi.
    • Ada wanita yang mengalami kemunculan hormon LH jauh sebelum ovulasi itu sendiri (mini-peaks of LH).
    • Alat ini tidak memberitahu apakah lendir leher rahim kondusif untuk sperma
    • Ketepatan alat ini bisa berkurang jika terkena panas yang berlebihan
    • Alat ini tidak akan memberi hasil positif jika dilakukan bukan pada masa subur. Sementara banyak wanita yang menyangka dirinya berovulasi hanya pada hari ke 14. Padahal tidak selalu demikian.
    • Obat kesuburan seperti Pergonal atau Danicrone bisa mempengaruhi alat tersebut
    • Alat ini tidak akurat untuk wanita di atas 40 tahun
  • Ada wanita yang menyangka dirinya tidak bisa hamil, padahal kenyataannya dia bisa hamil tetapi mengalami keguguran.
Menurut Weschler, hal di atas bisa diatasi dengan menerapkan metode kesadaran kesuburan untuk mengetahui kapan fase subur terjadi.

Penyebab Infertilitas

Pada Wanita

a. Pada wanita • Gangguan organ reproduksi 1. Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan membunuh sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke vagina 2. Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. Apabila mukus sedikit di serviks, perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. Selain itu, bekas operasi pada serviks yang menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim 3. Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang 4. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu • Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi. Hambatan ini dapatterjadi karena adanya tumor kranial, stress, dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini, maka folicle mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gengguan ovulasi. • Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. Setelah terjadi pembuahan, proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. Akiatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus. • Endometriosis • Abrasi genetis • Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu, maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil. • Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas ananstesi, zat kimia, dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan.

Pada Pria

Ada beberapa kelainan umum yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria yaitu : • Abnormalitas sperma; morfologi, motilitas • Abnormalitas ejakulasi; ejakulasi rerograde, hipospadia • Abnormalitas ereksi • Abnormalitas cairan semen; perubahan pH dan perubahan komposisi kimiawi • Infeksi pada saluran genital yang meninggalkan jaringan parut sehingga terjadi penyempitan pada obstruksi pada saluran genital • Lingkungan; Radiasi, obat-obatan anti cancer • Abrasi genetik

Mengatasi Infertilitas




Ketidaksuburan atau Infertilitas

Salah satu yang paling ditakutkan adalah ketidaksuburan atau infertilitas yang sering dikaitkan dengan kemandulan pada salah satu pasangan. Bagi wanita, ketidaksuburan atau infertilitas disebabkan karena gagalnya pelepasan sel telur atau indung telur tidak dapat menghasilkan sel telur yang matang. Dengan demikian tidak terjadi ovulasi sehingga sel telur tidak masuk ke saluran telur yang menyebabkan tidak dapat terjadi pembuahan. Kondisi ini disebut sebagai ovulation disorder. Penyebab lainnya adalah tertutupnya atau tersumbatnya tuba falopi atau saluran telur. Atau adanya endometriosis atau sering dikenal sebagai kista yaitu tumbuhnya jaringan dinding rahim di luar rahim.
Sedangkan bagi pria, ketidaksuburan sering disebabkan karena tidak adanya produksi sperma pada kantung sperma. Jikapun ada produksi sperma, namun jumlahnya sangat sedikit sehingga ketika masuk ke vagina, tidak ada sperma yang berhasil membuahi sel telur.


Bayi Tabung

Salah satu metode untuk mengatasi ketidaksuburan atau infertilitas adalah dengan bayi tabung. Bayi tabung pertama kali berhasil dilakukan terhadap seorang bayi perempuan bernama Louise Joy Brown di Inggris pada tanggal 25 Juli 1978. Prosesnya dilakukan dengan mengambil sel telur dari ovarium ibu lalu disatukan dengan sperma ayah dalam sebuah medium cair di gelas laboratorium. Lalu sel telur dibuahi di laboratorium. Setelah sel telur dibuahi, sekitar dua setengah hari kemudian, sel telur telah terbagi menjadi delapan sel yang sangat kecil. Kemudian dimasukkan ke dalam uterus atau rahim ibu untuk berkembang secara normal menjadi bayi. Sejak saat itu, berbagai terapi dan teknologi dikembangkan untuk mengatasi masalah kesuburan baik pada pria maupun wanita.
Proses bayi tabung dilakukan dengan proses yang dikenal sebagai in vitro fertilization (IVF) atau pembuahan in vitro. IVF menjadi momentum untuk pengembangan perawatan dan terapi berikutnya untuk teknologi pembantu reproduksi atau assisted reproductive technology (ART). ART mencakup berbagai perawatan untuk masalah kesuburan. Termasuk sel telur dari wanita lain lalu dibuahi untuk dikembangkan di rahim seorang wanita yang lain lagi. Tahun 1994 di Italia, seorang wanita tua berusia 62 tahun yang sudah tidak memiliki sel telur melahirkan seorang bayi yang berasal dari sel telur wanita lain yang dibuahi dengan sperma suaminya. Jadi banyak metode yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kesuburan.

Berbagai Teknik Perawatan Masalah Ketidaksuburan atau Infertilitas

Organ Reproduksi WanitaAda beberapa jenis perawatan untuk masalah kesuburan baik untuk pria maupun wanita. Selain bayi tabung, perawatan-perawatan berikut juga telah melalui serangkaian proses penelitian dan angka keberhasilannya cukup memuaskan bagi pasangan yang memiliki masalah kesuburan.
Namun sebelum Anda menggunakan salah satu metode perawatan masalah kesuburan, sebaiknya Anda membuat riset mendalam terlebih dahulu dan berdiskusi baik kepada para ahli medis maupun kepada pemimpin agama. Beberapa kelompok agama menganggap beberapa jenis metode bayi tabung maupun inseminasi buatan termasuk melanggar hukum agama. Hal ini khususnya jika pembuahan atau pengembangan bayi dilakukan bukan di rahim ibu yang memberikan sel telur ataupun bukan menggunakan sperma yang berasal dari suami sendiri. Dengan kata lain, bagi beberapa kelompok agama, jika melibatkan pihak ketiga baik sebagai donor maupun media pembuahan yang bukan suami atau istri sah, itu sudah dianggap melanggar hukum agama. Karena itu masalah memilih perawatan ini adalah keputusan pribadi setiap pasangan dan perlu didiskusikan secara mendalam.
Sebelum memutuskan memilih jenis teknik perawatan untuk masalah infertilitas atau ketidaksuburan, sebaiknya Anda bertanya secara lebih dalam kepada ahli medis yang menangani masalah Anda. Tanyakan apa saja kerugian dan keuntungan dari masing-masing teknik untuk Anda maupun pasangan. Serta tanyakan berbagai risiko yang bisa terjadi bagi Anda dan pasangan. Beberapa jenis teknik perawatan untuk masalah ketidaksuburan atau infertilitas yang memiliki tingkat keberhasilan cukup tinggi di antaranya yaitu:

·         Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan atau artificial insemination (sering disingkat sebagai AI) dilakukan dengan memasukkan cairan semen yang mengandung sperma dari pria ke dalam organ reproduksi wanita tanpa melalui hubungan seks atau bukan secara alami. Cairan semen yang mengandung sperma diambil dengan alat tertentu dari seorang suami kemudian disuntikkan ke dalam rahim isteri sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan. Biasanya dokter akan menganjurkan inseminasi buatan sebagai langkah pertama sebelum menerapkan terapi atau perawatan jenis lainnya.

·         GIFT (Gamete Intrafallopian Transfer)

GIFT yang merupakan singkatan dari Gamete Intrafallopian Transfer merupakan teknik yang mulai diperkenalkan sejak tahun 1984. Tujuannya untuk menciptakan kehamilan. Prosesnya dilakukan dengan mengambil sel telur dari ovarium atau indung telur wanita lalu dipertemukan dengan sel sperma pria yang sudah dibersihkan. Dengan menggunakan alat yang bernama laparoscope, sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan tersebut dimasukkan ke dalam tuba falopi atau tabung falopi wanita melalui irisan kecil di bagian perut melalui operasi laparoskopik. Sehingga diharapkan langsung terjadi pembuahan dan kehamilan.

·         IVF (In Vitro Fertilization)

IVF atau In Vitro Fertilization dikenal juga sebagai prosedur bayi tabung. Mula-mula sel telur wanita dan sel sperma dibuahi di media pembuahan di luar tubuh wanita. Lalu setelah terjadi pembuahan, hasilnya yang sudah berupa embrio dimasukkan ke dalam rahim melalui serviks.

·         ZIFT (Zygote Intrafallopian Transfer)

ZIFT atau Zygote Intrafallopian Transfer merupakan teknik pemindahan zigot atau sel telur yang telah dibuahi. Proses ini dilakukan dengan cara mengumpulkan sel telur dari indung telur seorang wanita lalu dibuahi di luar tubuhnya. Kemudian setelah sel telur dibuahi, dimasukkan kembali ke tuba falopi atau tabung falopi melalui pembedahan di bagian perut dengan operasi laparoskopik. Teknik ini merupakan kombinasi antara teknik IVF dan GIFT.

·         ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection)

ICSI atau Intracytoplasmic Sperm Injection dilakukan dengan memasukkan sebuah sel sperma langsung ke sel telur. Dengan teknik ini, sel sperma yang kurang aktif maupun tidak matang dapat digunakan untuk membuahi sel telur.
Jadi Anda tidak perlu khawatir jika pasangan Anda mengalami masalah infertilitas atau ketidaksuburan, karena semuanya bisa diatasi dengan berbagai teknologi modern yang tersedia saat ini.




kondisi Reproduksi Wanita
Kelainan terbanyak pada organ reproduksi wanita penyebab infertilitas adalah endometriosis dan infeksi panggul, sedangkan kelainan lainnya yang lebih jarang kejadiannya adalah mioma uteri, polip, kista, dan saluran telur tersumbat (bisa satu atau dua yang tersumbat).
1. Endometriosis
Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. Endometriosis bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut juga adenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut. Gejala umum penyakit endometriosis adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim, serta -tentu saja-i nfertilitas.
2. Infeksi Panggul
Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul. Gejala umum infeksi panggul adalah: nyeri pada daerah pusar ke bawah (pada sisi kanan dan kiri), nyeri pada awal haid, mual, nyeri saat berkemih, demam, dan keputihan dengan cairan yang kental atau berbau. Infeksi panggul memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas fisik yang berat, pemeriksaan panggul, dan pemasangan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral).
3. Mioma Uteri
Mioma uteri adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim. Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim. Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium). Mioma uteri biasanya tidak bergejala. Mioma aktif saat wanita dalam usia reproduksi sehingga -saat menopause- mioma uteri akan mengecil atau sembuh.
4. Polip
Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya diakibatkan oleh mioma uteri yang membesar dan teremas-remas oleh kontraksi rahim. Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan uterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh.
5. Kista
Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran) yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur tubuh manusia.
Terdapat berbagai macam jenis kista, dan pengaruhnya yang berbeda terhadap kesuburan. Hal penting lainnya adalah mengenai ukuran kista. Tidak semua kista harus dioperasi mengingat ukuran juga menjadi standar untuk tindakan operasi. Jenis kista yang paling sering menyebabkan infertilitas adalah sindrom ovarium polikistik. Penyakit tersebut ditandai amenore (tidak haid), hirsutism (pertumbuhan rambut yang berlebihan, dapat terdistribusi normal maupun tidak normal), obesitas, infertilitas, dan pembesaran indung telur. Penyakit ini disebabkan tidak seimbangnya hormon yang mempengaruhi reproduksi wanita.
6. Saluran Telur yang Tersumbat
Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui saluran telur yang tersumbat adalah dengan HSG (Hystero Salpingo Graphy), yaitu semacam pemeriksaan röntgen (sinar X) untuk melihat rahim dan saluran telur.
7. Sel Telur
Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium polikistik. Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya beliau memeriksakan diri ke dokter.
Kondisi Reproduksi Pria
Perlu pembaca ketahui bahwa kondisi reproduksi pria meliputi sperma dan seksualitas.
Sperma
Sperma berasal dari kata spermatozoa, yaitu sel kelamin jantan yang memiliki bulu cambuk. Bentuk sperma mirip kecebong. Sperma dihasilkan oleh testis. Cairan nutrisi sperma berupa cairan putih, kental, dan berbau khas yang disebut “semen”. Proses pengeluaran semen dan sperma disebut ejakulasi, sehingga cairannya disebut juga dengan cairan ejakulat.
Pada pemeriksaan cairan ejakulat yang normal didapatkan:
  1. Volume: ≥ 2 mililiter.
  2. Lama mencair: 60 menit.
  3. pH (tingkat keasaman): ≥ 7,2.
  4. Kadar spermatozoa: ≥ 20 juta spermatozoa per mililiter.
  5. Jumlah spermatozoa total: ≥ 20 juta spermatozoa per ejakulat.
  6. Motilitas (pergerakan):
    • ≥ 50% motil (grade a dan b)*; atau
    • ≥ 25% bergerak progresif (grade a)
dalam 60 menit setelah ejakulasi.

  1. Vitalitas: spermatozoa hidup ≥ 75%.
  2. Sel darah putih: < 1juta per mililiter.
  3. Grade a: pergerakan sperma yang cepat, progresif, biasanya membentuk garis lurus.
Grade b: pergerakan sperma yang lambat, biasanya kurang membentuk garis lurus.
Sperma membawa sifat dari bapak, yang nantinya akan bertemu dengan sel telur yang membawa sifat dari ibu. Oleh karena itu, kualitas sperma dan sel telur yang baik menjadi faktor penting dalam kehamilan.
Penyebab Umum Ketidaksuburan Pria
1. Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular)
Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis yang bertugas mengeluarkan hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon testosteron, akibatnya produksi sperma dapat terganggu. Terapi yang bisa dilakukan adalah dengan terapi hormon.
2. Gangguan di daerah testis (testicular)
Kerja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi. Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, sehingga produksi sperma menjadi terganggu. Dalam proses produksi, testis sebagai “pabrik” sperma membutuhkan suhu yang lebih dingin daripada suhu tubuh, yaitu 34–35 °C, sedangkan suhu tubuh normal 36,5–37,5 °C. Bila suhu tubuh terus-menerus naik 2–3 °C saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu. Oleh karena itu, hindari memakai celana dalam atau celana panjang yang ketat. Usahakan tidak mengenakan celana dalam waktu tidur untuk menjaga suhu di bagian tubuh tersebut tetap sejuk. Janganlah merokok, karena penelitian menunjukkan bahwa perokok memiliki jumlah sperma lebih sedikit dibandingkan pria yang tidak merokok. Jangan mengonsumsi alkohol karena dapat mempengaruhi fungsi liver, yang pada gilirannya dapat menyebabkan peningkatan estrogen. Jumlah estrogen yang tinggi dalam tubuh akan mempengaruhi produksi sperma. Usaha lain untuk meningkatkan kualitas dan jumlah sperma adalah mengkonsumsi suplemen alami. Asam amino L-carnitine (ditemukan dalam daging merah dan susu) dan L-arginine (terdapat dalam kacang-kacangan, telur, daging, dan wijen) berkhasiat meningkatkan mutu sperma.



3. Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular)
Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu. Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir, terkena infeksi penyakit -seperti tuberkulosis (Tb)-, serta vasektomi yang memang disengaja.
4. Gangguan lain
Gangguan lain yang cukup sering kejadiannya adalah pelebaran pembuluh darah atau varises. Varises pada pembuluh darah yang menyuplai testeis disebut varicocele. Akibatnya, darah kotor yang seharusnya dibawa ke atas untuk dibersihkan, turun lagi dan mengendap di testis. Darah kotor yang mengendap mengandung zat-zat yang melemahkan sperma, seperti adrenalin dan sebagainya.
Penyebab Lain
1. Kelainan Kekebalan Tubuh
Kekebalan tubuh berguna melawan benda asing atau kuman penyebab infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Janin juga dilindungi dengan kekebalan ini agar berkembang baik. Kekebalan tubuh diperankan oleh antibodi. Antibodi bisa menyerang kuman (benda asing) karena ada antigen pada kuman tersebut. Jadi, antigen berperan sebagai “tanda pengenal” agar kuman dapat dikenali antibodi, baru kemudian antibodi dapat menghancurkannya. Akan tetapi, pada beberapa wanita terdapat kelainan adanya antibodi antisperma, akibatnya antibodi tersebut menghancurkan sperma yang masuk sehingga pembuahan gagal terjadi. Pada beberapa pria, juga terdapat kelainan berupa antibodi yang dimilikinya menyerang sperma karena sperma dianggap sebagai benda asing sehingga sperma menjadi berkualitas jelek alias tidak mampu membuahi sel telur.
Pada dasarnya, wanita tidak memiliki unsur antigen, seperti halnya pada sperma atau komponen plasma semen. Namun, pada saat wanita mulai berhubungan seksual dengan pria, dalam tubuhnya akan terbentuk antibodi antisperma terhadap antigen sperma. Pada tingkat tertentu antibodi masih dapat ditembus oleh sperma yang bagus kualitasnya dan dapat mengakibatkan kehamilan.
2. Infertilitas Sebagai Komplikasi Penyakit Lain
Penyakit-penyakit yang berkomplikasi infertilitas, antara lain: penyakit genetik, kencing manis (diabetes mellitus), penyakit kelenjar gondok, kelainan hormon, dan obesitas (kegemukan).


Pengobatan Bagi Pasangan Infertil
Bagi pasangan yang ingin dikaruniai keturunan, hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berikhtiar, dan bertawakkal. Berusaha dengan penuh kesabaran, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Pasangan infertil sebaiknya pergi ke dokter, rumah sakit, atau klinik infertilitas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Klinik infertilitas yang ada di Indonesia, misalnya:
  • Klinik Permata Hati RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta.
  • Klinik Fertilitas Graha Amerta RSU dr. Soetomo, Surabaya.
  • Klinik Yasmin RSUP dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Program kesehatan mungkin yang ditawarkan oleh dokter pada pasangan infertil cukup beragam tergantung penyebab infertilitas. Yang perlu diingat, dalam usaha memperoleh keturunan kita harus tetap memperhatikan rambu-rambu syariat. Janganlah demi memenuhi keinginan untuk mendapat anak sehingga kita menghalalkan segala cara.
Usaha- usaha yang Dianjurkan untuk Memperoleh Keturunan
  1. Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terutama dengan banyak-banyak beristigfar.
  2. Sabar, optimis, dan komunikasi yang baik antar suami-istri untuk memutuskan suatu terapi.
  3. Berperilaku hidup sehat, meliputi:
    1. Diet (pola makan) yang sehat
      • Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal.
      • Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara terbagi dan seimbang, sehingga tidak menimbulkan puncak glukosa darah yang tinggi setelah makan.
      • Mengandung sedikit lemak jenuh dan tinggi serat larut.
    2. Latihan jasmani
3.       
      • Latihan jasmani teratur dapat memperbaiki kendali glukosa darah, serta mempertahankan atau menurunkan berat badan.
      • Latihan jasmani yang dianjurkan adalah dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu dengan latihan aerobik sedang (50—70% denyut jantung maksimal*), atau 90 menit/minggu dengan latihan aerobik berat (mencapai denyut jantung >70% maksimal). Latihan jasmani dibagi menjadi 3-4 kali aktivitas per minggu.
        *) Denyut jantung maksimal: 220-umur: contoh: seseorang berumur 50 tahun, denyut jantung maksimalnya adalah 220-50=170 denyut/menit.
Referensi:
  • Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2006.
  • Seleksi Pasutri Pada Kasus Infertilitas, oleh: H. Soehartono DS.
  • Skor Infertilitas Surabaya (Berdasarkan Faktor Risiko), oleh: Samsul Hadi.
  • Vitahealth. 2008. Infertil: Informasi Lengkap Untuk Penderita dan Keluarganya. Jakarta: Gramedia.
  • www.kesrepro.info.net
  • www.klinikyasmin.co.id
  • www.mhhe.com
  • www.wikipedia.com

tidak punya anak setelah sekian lama menikah, membuat hidup terasa tidak berguna, malas bersosialisasi karena pertanyaan2 sama akan terus mengikuti dan membayangi. Membuka facebook membuat hati semakin tersayat2 melihat begitu lucu2nya foto anak2 dari sahabat2 dan teman2, belum lagi bayi2 mungil yang menggemaskan. Duuuhhh….Belum lagi keluarga, mertua, membuat hidup tambah tidak nyaman. Tahukah anda bahwa stress dan kecemasan itu juga menambah meningkatnya angka infertilitas ?
Infertilitas adalah ketidakmampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan bayi hidup dari suami yang mampu menghamilkannya selama 12 bulan berturut2 dengan frekuensi coitus teratur seminggu 2-3 x.
Apa saja yang mempengaruhi terjadinya infertilitas ini ? yuk kita simak sama2,
Usia
Dengan semakin meningkatnya usia, dapat terjadi kesulitan mendapatkan anak disebabkan berkurangnya kualitas sel telur wanita tsb.
Riwayat penyakit, maupun operasi terdahulu dapat memberikan informasi tentang penyebab infertilitas. Apendisitis, peritonitis, salpingitis, dapat menyebabkan kelainan pada tuba. Hipotiroid, hipertiroid, penyakit pada hipofisis, DM dan suprarenal dapat menyebabkan infertilitas juga.
Berat badan dan perubahan pada berat badan (terlalu gemuk, terlalu kurus) mempengaruhi pengobatan infertilitas. Lemak subkutan mengandung enzim aromatase yang akan mengubah androgen menjadi estrogen. Estrogen tinggi akan menekan pengeluaran FSH dan LH, selanjutnya LH yang tinggi menekan aktivitas enzim aromatase sehingga androgen tidak dapat diubah menjadi estrogen. Pada wanita yang gemuk sering dijumpai insulin resisten. Insulin memicu sintesis DHEA di suprarenal, sehingga terjadi hiperandrogenemia.
Kadar androgen di dalam cairan folikel dan didalam serum tinggi akibatnya akan terjadi atresia folikel. Sel-sel lemak juga akan menghasilkan leptin, yang akan menekan produksi neuropeptida Y di hipotalamus. Neuropeptida ini berfungsi untuk mengurangi rasa lapar, sehingga penekanan pada neuropeptida ini akan menyebabkan selalu merasa lapar. Leptin sendiri juga memicu pengeluaran FSH dan LH. Kadar LH yang tinggi mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar androgen. Kekurusan akibat malnutrisi kronik menyebabkan tidak terbentuknya lemak dan leptin, sehingga tidak terjadi stimulasi pengeluaran FSH dan LH. Akibatnya terjadi anovulasi sampai amenore.
Pola hidup : Alkohol akan menghambat kerja enzim sulfatase dan enzim aromatase, sehingga terjadi gangguan pada sistem hormon. Nikotin mengurangi aliran darah alat genitalia dan mempercepat penghancuran hormon.
Stres memicu pengeluaran corticotrophin releasing factor (CRF) yang akan menekan pengeluaran LH dan Growth Hormone, dan memicu pengeluaran proopiomelanocortin (POMC) di sel-sel kortikotrop hipofisis bagian depan.
Gangguan hubungan seksual : penetrasi tidak sempurna ke vagina, sangat jarang melakukan hubungan seksual, atau vaginismus. Kebiasaan mencuci organ intimnya dengan cairan-cairan antiseptic, yang akan menyebabkan perubahan pada lendir serviks yang menjadi tidak ramah bagi sperma.
Analisa hormonal
Bila dari anamnesis didapatkan riwayat atau sedang mengalami gangguan haid, atau dari pemeriksaan suhu basal badan ditemukan anovulasi. Prolaktin merupakan hormon yang harus diperiksa. Hiperprolaktinemi menyebabkan gangguan sekresi GnRH yang mengakibatkan anovulasi. Kadar prolaktin diperiksa antara jam 7 – 10 pagi. Penggunaan obat-obat psikofarmaka dapat meningkatkan kadar prolaktin. Peningkatan kadar prolaktin 30-50 ng/ml perlu dipikirkan adanya penggunaan tranquilizer dan hipotiroid.
Uji Pascasenggama (UPS)
Dilakukan 2-3 hari sebelum perkiraan ovulasi, dimana ‘spinnbarkeit’ dari getah serviks mencapai  5 cm atau lebih. Pengambilan getah serviks dari kanal endoserviks dilakukan setelah 2-12 jam sanggama. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop. UPS (+) jika ditemukan paling sedikit 5 sperma per lapang pandangan besar (LPB=400 x). Hasil UPS yang normal dapat menyingkirkan sebab infertilitas dari suami.
Penilaian ovulasi
Mengukur suhu basal badan : dikerjakan tiap pagi sebelum bangkit dari tempat tidur, ataupun makan minum. Termometer (khusus) ditempatkan dibawah lidah selama 4 menit. Dikerjakan tiap hari sebelum matahari terbit, dan pada keadaan badan tidak demam. Jika wanita berovulasi maka grafik akan memperlihatkan gambaran bifasik. Pada siklus haid yang tidak berovulasi maka gambaran grafiknya monofasik. Namun gambaran monofasik belum tentu tidak terjadi ovulasi. Kesalahan berkisar 20%.
Cara lain dengan menggunakan USG transvaginal dan pemeriksaan hormon progesteron darah. Dari USG akan dilihat pertumbuhan folikel, bila diameternya mencapai 18-25 mm, berarti folikel telah matang dan tidak lama lagi akan terjadi ovulasi.
Penilaian ovulasi secara endokrinologi dilakukan dengan pemeriksaan LH dan 17β-estradiol  darah. Darah harus diambil tiap hari yang dimulai pada hari ke-10 sampai terjadi ovulasi. Pada preovulatorik terjadi peningkatan 17β-estradiol yang kadarnya mencapai puncak dalam 24 jam, yaitu antara 150-300 pg/ml. Kadar estrogen ini menyebabkan pengeluaran LH dari hipofisis (puncak LH). Estradiol dan LH merupakan hormon yang sangat penting untuk dapat terjadinya ovulasi. Namun LH yang terlalu tinggi dapat menyebabkan estrogen terlalu banyak diubah menjadi androgen, sehingga ovulasi tidak terjadi. LH yang terlalu tinggi juga menyebabkan luteinisasi lebih cepat. Korpus luteum menjadi terlalu cepat memproduksi progesteron dan perubahan pada endometrium menjadi terlalu cepat, sehingga nidasi akan terganggu.
Gangguan ovulasi idiopatik dapat diberikan estrogen (feedback positif) atau klomifen sitrat (feedback negative), yang akan merangsang gonadotropin dalam jumlah besar. Gonadotropin memicu pertumbuhan folikel yang diikut dengan meningkatnya kadar estradiol darah dan tercapainya puncak LH. Bila tidak berhasil juga maka untuk pematangan folikel diberikan gonadotropin dari luar.
Pemeriksaan bakteriologi
Infeksi akan menyebabkan pergerakan tuba fallopii terganggu. Dalam proses penyembuhan terjadi perlekatan tuba dengan jaringan disekitarnya, sehingga terjadi kesulitan tuba untuk menangkap telur. Chlamydia trachomatis dan gonokok sering menyebabkan sumbatan tuba. Laparaskopi sebagai baku emas untuk melakukan biakan kuman yang diambil dari cairan peritoneum. TORSCH masih kontroversi. Namun jika ada riwayat abortus berulang atau kelainan bawaan pada kehamilan sebelumnya, dapat diperiksa.
Analisis Fase Luteal
Insufisiensi korpus luteum menyebabkan transformasi endometrium tidak adekuat, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan progesteron pada pertengahan fase luteal, kadar normalnya 10 ng/ml. Pengobatan insufisiensi korpus luteum dengan memberikan progesteron alamiah, lebih baik intravagina.

Diagnosis Tuba Fallopii
Untuk mengetahui kelainan pada tuba dengan berbagai cara berikut :
1.    Uji insuflasi : Dilakukan pada paruh pertama siklus haid, dengan meniupkan CO2 melalui kanal serviks dan dibuat rekaman kimograf terhadap tekanan uterus. Sudah mulai tidak dikerjakan lagi.
2.    Histerosalpingografi (HSG) : Dilakukan pada paruh pertama siklus haid. Tidak senggama paling sedikit 2 hari sebelum dilakukan HSG.  Dilakukan dengan cara menyuntikan larutan radioopak melalui kanalis serviks ke uterus dan tuba fallopii. HSG tidak boleh dilakukan pada pasien dengan salpingitis.
3.    USG : Melihat tuba fallopii dengan USG sama prinsipnya dengan HSG
4.    Hidrotubasi : Digunakan cairan yang mengandung antibiotikan kanamisin 1 gram, deksametason 5 mg, dan spasmodik cair yang biasanya mengandung hiosin dan metamizol.
5.    Laparaskopi : Cara terbaik untuk menilai fungsi tuba fallopii, karena kedua tuba dilihat secara langsung dan patensinya dapat diuji dengan menyuntikkan larutan biru metilen atau indigokarmin. Juga dapat dilihat kelainan lain seperi endometriosis, perlekatan pelvis dan patologi ovarium. Laparaskopi dapat dikerjakan bersamaan dengan histeroskopi. Oleh karena invasif, perlu dipikirkan apakan tindakan ini sudah harus dilakukan pada awal atau pada tahap akhir pemeriksaan infertilitas.
Analisis Sperma
Dilakukan pada tahap awal. Selain kuantitas juga dilahat kualitas dari motilitas maupun morfologi spermatozoa. Bila ditemukan fruktosa didalam semen, maka harus dilakukan tindakan biopsi testis, untuk melihat adanya kelainan yang bersifat kongenital.
Fertilisasi in vitro
Pembiakan (kultur) dilaboratorium dari hasil inseminasi sel benih pria ke sel telur yang diambil dengan cara pengisapan folikel matang dari indung telur sehingga membentuk embrio, yang akan dilanjutkan dengan transfer embrio de dalam rahim melalui saluran leher rahim atau transservikal. Laju keberhasilan IVF  untuk satu siklus berkisar 30-35%. Angka ini akan meningkat jika tindakan IVF diulang 2 kali.

Sudah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrsepsi, tapi belum hamil juga? Jika kondisi ini Anda alami lebih dari setahun maka sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter. Bisa jadi Anda mengidap infertilitas.
Apakah infertilitas itu? Apa penyebab dan bagaimana solusinya?
Infertilitas tidak sama dengan kemandulan
Di bidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurangmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan.
Jadi, pasangan suami istri dikategorikan mengalami infertilitas bila tidak juga mengalami pembuahan, sekalipun sudah melakukan hubungan seksual secara teratur – tanpa kontrasepsi – dalam periode setahun. Sedangkan kemandulan atau sterilitas adalah perempuan yang rahimnya telah diangkat atau laki-laki yang telah dikebiri (dikastrasi).
Penyebab Infertilitas
Berdasarkan catatat WHO, diketahui penyebab infertilitas pada perempuan di antaranya, adalah: faktor Tuba fallopii (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis 6%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 40%.
Ini artinya sebagian besar masalah infertilitas pada perempuan disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.
  • Gangguan pada organ reproduksi
Ada beberapa gangguan yang biasanya terdapat pada vagina, di antaranya:
  • Tingkat keasaman tinggi
Bila terjadi infeksi pada vagina, biasanya kadar keasaman dalam vagina akan meningkat. Kondisi ini akan menyebabkan sperma mati sebelum sempat membuahi sel telur. Kadar keasaman vagina juga menyebabkan vagina mengerut sehingga perjalanan sperma di dalam vagina terhambat.
  • Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur)
Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau penyakt infeksi yang disebabkan oleh jamur klamidia.
  • Gangguan Ovulasi
Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal. Ovarium polikistik disebabkan oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah. Kadar androgen yang berlebihan ini mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan folikel sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada gilirannya ovulasi juga akan terganggu.
  • Kegagalan implantasi
Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai.
  • Endometriosis
Endometriosis adalah istilah untuk menyebutkan kelainan jaringan endometrium (rahim) yang tumbuh di luar rahim. Jaringan abnormal tersebut biasanya terdapat pada ligamen yang menahan uterus, ovarium, Tuba fallopii, rongga panggul, usus, dan berbagai tempat lain. Sebagaimana jaringan endometrium normal, jaringan ini mengalami siklus yang menjadi respon terhadap perubahan hormonal sesuai siklus menstruasi perempaun.
Solusi
Karena disebabkan oleh berbagai faktor, maka sangat dianjurkan agar pasangan suami dan istri memeriksakan diri lebih dini, agar diketahui penyebabnya. Tidak semua kasus dapat dibantu dengan pengobatan, beberapa di antaranya (kelainan anatomi dan bentuk) membutuhkan penanganan medis via operasi.
Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan kandungan melalui serangkaian tes laboratorium seperti tes darah, kencing serta kadar hormon. Jika dibutuhkan, dokter biasanya menyarankan agar dilakukan pemeriksaan radiologis (USG, HSG), bahkan tindakan operasi (laparaskopi) untuk mencari/mengobati penyebabnya.

Pengertian
Fertilitas adalah kemampuan seorang istri menjadi hamil dan suami bisa menghamili.
Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Infertilitas adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha selama satu tahun tetapi belum hamil. (Manuaba, 1998).
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun.
Infertilitas primer bila pasutri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder bila istri pernah hamil. (Siswandi, 2006).
Faktor Penyebab
Infertilitas Disengaja
Infertilitas yang disengaja disebabkan pasangan suami istri menggunakan alat kontrasepsi baik alami, dengan alat maupun kontrasepsi mantap.

Infertilitas Tidak Disengaja
  1. Pihak Suami, disebabkan oleh:  a) Gangguan spermatogenesis (kerusakan pada sel-sel testis), misal: aspermia, hypospermia, necrospermia. b) Kelainan mekanis, misal: impotensi, ejakulatio precox, penutupan ductus deferens, hypospadia, phymosis. Infertilitas yang disebabkan oleh pria sekitar 35-40 %.
  2. Pihak Istri, penyebab infertilitas pada istri sebaiknya ditelusuri dari organ luar sampai dengan indung telur. a) Gangguan ovulasi, misal: gangguan ovarium, gangguan hormonal. b) Gangguan ovarium dapat disebabkan oleh faktor usia, adanya tumor pada indung telur dan gangguan lain yang menyebabkan sel telur tidak dapat masak. Sedangkan gangguan hormonal disebabkan oleh bagian dari otak (hipotalamus dan hipofisis) tidak memproduksi hormon-hormon reproduksi seperti FSH dan LH.  c) Kelainan mekanis yang menghambat pembuahan, meliputi kelainan tuba, endometriosis, stenosis canalis cervicalis atau hymen, fluor albus, kelainan rahim. d) Kelainan tuba disebabkan adanya penyempitan, perlekatan maupun penyumbatan pada saluran tuba. e) Kelainan rahim diakibatkan kelainan bawaan rahim, bentuknya yang tidak normal maupun ada penyekat. Sekitar 30-40 % pasien dengan endometriosis adalah infertil. Endometriosis yang berat dapat menyebabkan gangguan pada tuba, ovarium dan peritoneum.  Infertilitas yang disebabkan oleh pihak istri sekitar 40-50 %, sedangkan penyebab yang tidak jelas kurang lebih 10-20 %.


Pemeriksaan Infertilitas
Syarat-Syarat Pemeriksaan
Pasangan infertil merupakan satu kesatuan biologis sehingga keduanya sebaiknya dilakukan pemeriksaan. Adapun syarat-syarat sebelum dilakukan pemeriksaan adalah:
  1. Istri dengan usia 20-30 tahun baru diperiksa setelah berusaha mendapatkan anak selama 12 bulan.
  2. Istri dengan usia 31-35 tahun dapat langsung diperiksa ketika pertama kali datang.
  3. Istri pasangan infertil dengan usia 36-40 tahun dilakukan pemeriksaan bila belum mendapat anak dari perkawinan ini.
  4. Pemeriksaan infertil tidak dilakukan pada pasangan yang mengidap penyakit.
  5.  
Langkah Pemeriksaan
Pertama kali yang dilakukan dalam pemeriksaan adalah dengan mencari penyebabnya. Adapun langkah pemeriksaan infertilitas adalah sebagai berikut :
Pemeriksaan Umum
  • Anamnesa, terdiri dari pengumpulan data dari pasangan suami istri secara umum dan khusus.
Anamnesa umum
Berapa lama menikah, umur suami istri, frekuensi hubungan seksual, tingkat kepuasan seks, penyakit yang pernah diderita, teknik hubungan seks, riwayat perkawinan yang dulu, apakah dari perkawinan dulu mempunyai anak, umur anak terkecil dari perkawinan tersebut.
Anamnesa khusus
Istri : Usia saat menarche, apakah haid teratur, berapa lama terjadi perdarahan/ haid, apakah pada saat haid terjadi gumpalan darah dan  rasa nyeri, adakah keputihan abnormal, apakah pernah terjadi kontak bleeding, riwayat alat reproduksi (riwayat operasi, kontrasepsi, abortus, infeksi genitalia).
Suami : Bagaimanakah tingkat ereksi, apakah pernah mengalami penyakit hubungan seksual, apakah pernah sakit mump (parotitis epidemika) sewaktu kecil.
  • Pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan fisik umum meliputi tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan).
  • Pemeriksaan laboratorium dasar, pemeriksaan laboratorium dasar secara rutin meliputi darah lengkap, urin lengkap, fungsi hepar dan ginjal serta gula darah.
  • Pemeriksaan penunjang, pemeriksaan penunjang disini bias pemeriksaan roentgen ataupun USG.
Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan Ovulasi
Pemeriksaan ovulasi dapat diketahui dengan berbagai pemeriksaan diantaranya : a) Penatalaksanaan suhu basal; Kenaikan suhu basal setelah selesai ovulasi dipengaruhi oleh hormon progesteron. b) Pemeriksaan vaginal smear; Pengaruh progesteron menimbulkan sitologi pada sel-sel superfisial. c) Pemeriksaan lendir serviks; Hormon progesteron menyebabkan perubahan lendir serviks menjadi kental. d) Pemeriksaan endometrium. e) Pemeriksaan endometrium; Hormon estrogen, ICSH dan pregnandiol.
Gangguan ovulasi disebabkan : a) Faktor susunan saraf pusat ; misal tumor, disfungsi, hypothalamus, psikogen.  b)    Faktor intermediate ; misal gizi, penyakit kronis, penyakit metabolis. c) Faktor ovarial ; misal tumor, disfungsi, turner syndrome.
Terapi : Sesuai dengan etiologi, bila terdapat disfungsi kelenjar hipofise ddengan memberikan pil oral yang mengandung estrogen dan progesteron, substitusi terapi (pemberian FSH dan LH) serta pemberian clomiphen untuk merangsang hipofise membuat FSH dan LH. Selain clomiphen dapat diberikan bromokriptin yang diberikan pada wanita anovulatoir dengan hiperprolaktinemia. Atau dengan pemberian Human Menopausal Gonadotropin/ Human Chorionic Gonadotropin untuk wanita yang tidak mampu menghasilkan hormon gonadotropin endogen yang adekuat.
Pemeriksaan Sperma
Pemeriksaan sperma dinilai atas jumlah spermatozoa, bentuk dan pergerakannya. Sperma yang ditampung/ diperiksa adalah sperma yang keluar dari pasangan suami istri yang tidak melakukan coitus selama 3 hari. Pemeriksaan sperma dilakukan 1 jam setelah sperma keluar.
  • Ejakulat normal :  volume  2-5 cc, jumlah spermatozoa 100-120 juta per cc, pergerakan 60 % masih bergerak selama 4 jam setelah dikeluarkan, bentuk abnormal 25 %.
  • Spermatozoa pria fertil  : 60 juta per cc atau lebih, subfertil : 20-60 juta per cc, steril : 20 juta per cc atau kurang.
Sebab-sebab kemandulan pada pria adalah masalah gizi, kelainan metabolis, keracunan, disfungsi hipofise, kelainan traktus genetalis (vas deferens).
Pemeriksaan Lendir Serviks
Keadaan dan sifat lendir yang mempengaruhi keadaan spermatozoa adalah : a) Kentalnya lendir serviks; Lendir serviks yang mudah dilalui spermatozoa adalah lendir yang cair. b) pH lendir serviks; pH lendir serviks ± 9 dan bersifat alkalis. c) Enzim proteolitik. d) Kuman-kuman dalam lendir serviks dapat membunuh spermatozoa.
Baik tidaknya lendir serviks dapat diperiksa dengan :
  • Sims Huhner Test (post coital tes), dilakukan sekitar ovulasi. Pemeriksaan ini menandakan bahwa : teknik coitus baik, lendir cerviks normal, estrogen ovarial cukup ataupun sperma cukup baik.
  • Kurzrork Miller Test, dilakukan bila hasil dari pemeriksaan Sims Huhner Test kurang baik dan dilakukan pada pertengahan siklus.
Terapi yang diberikan adalah pemberian hormone estrogen ataupun antibiotika bila terdapat infeksi.
Pemeriksaan Tuba
Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakukan : a) Pertubasi (insuflasi = rubin test); pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan CO2 ke dalam cavum uteri. b) Hysterosalpingografi; pemeriksaan ini dapat mengetahui bentuk cavum uteri, bentuk liang tuba bila terdapat sumbatan. c) Koldoskopi; cara ini dapat digunakan untuk melihat keadaan tuba dan ovarium. e) Laparoskopi; cara ini dapat melihat keadaan genetalia interna dan sekitarnya.
Pemeriksaan Endometrium
Pada saat haid hari pertama atau saat terjadi stadium sekresi dilakukan mikrokuretase.
Jika pada stadium sekresi tidak ditemukan, maka : endometrium tidak bereaksi terhadap progesteron, produksi progesterone kurang.
Terapi yang diberikan adalah pemberian hormon progesteron dan antibiotika bila terjadi infeksi.



Nasehat Untuk Pasangan Infertil
Bidan dapat memberikan nasehat kepada pasangan infertil, diantaranya :
  • Meminta pasangan infertil mengubah teknik hubungan seksual dengan memperhatikan masa subur.
  • Mengkonsumsi makanan yang meningkatkan kesuburan.
  • Menghitung minggu masa subur.
  • Membiasakan pola hidup sehat.
Referensi
Bagian Obstetric Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. 1981. Ginekologi. Elstar Offset, Bandung.
Manuaba, IBG, 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Arcan. Jakarta.
Manuaba, IBG, 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Dan Keluarga Berencana Untuk Bidan. EGC. Jakarta.
Sarwono, 1999. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Rabe, Thomas, 2002. Buku Saku Ilmu Kandungan, Hipokrates, Jakarta.
www/portalkalbe/files/cdk/files/13obatovulasiO81/13obatovulasiO81. Setiabudy, R. Tinjauan Farmakologik Beberapa Obat Yang Menginduksi Ovulasi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Medical Faculty Of Hasanudin University, 2005.
Hubungan Endometriosis Dengan Infertilitas, Makasar.
Wardoyo, Hasto, 2002. Infertilitas. Makalah Seminar Bayi Tabung. RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta.

Infertilitas pria

Hari ini sedang tidak ada waktu untuk menulis blog, tapi kepingin posting, jadi saya posting saja tulisan saya yang sudah dimuat dalam majalah Smart Living, karena tidak semua orang punya majalah tersebut tidak ada salahnya informasi ini saya sampaikan di sini siapa tau bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Setiap pasangan umumnya mendambakan kehadiran seorang buah hati sebagai tanda cinta dan pengikat keduanya. Namun jika si kecil tak kunjung hadir, maka setiap pasangan sebaiknya bijaksana untuk bersama-sama berkonsultasi dengan konsultan fertilitas, melakukan pemeriksaan fisik maupun laboratorium.  Seiring dengan bertambahnya pengetahuan mengenai fungsi reproduksi pria maka pentingnya faktor dari pria (suami)  pada kasus infertilitas (ketidaksuburan) sejak beberapa tahun terakhir meningkat.  Dahulu perhatian terfokus hanya pada pihak wanita saja sebagai penyebab ketidaksuburan pasangan. Saat ini diketahui kelainan pada pria memberikan kontribusi 30% dan 20% disebabkan kelainan kedua belah pihak pasangan. Oleh karena itu, faktor pria atau suami memegang kontribusi 50% pada pasangan infertil atau dengan kata lain baik suami maupun istri mempunyai kontribusi yang sama. Pengertian infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil/menghamili setelah 1 tahun menikah tanpa penggunaan alat kontrasepsi. Faktor-faktor  yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pria adalah gonadotoksin. Gonadotoksin berkaitan dengan lingkungan seperti paparan panas, merokok, radiasi, logam berat, larutan organik dan pestisida.  Peningkatan suhu yang sedang pada kantung skrotum dapat menimbulkan efek samping terhadap pembentukan sperma sehingga densitas dan motilitas sperma menurun. Pemakaian celana yang terlampau ketat, berendam air panas, spa dan pekerjaan yang terlalu lama duduk dapat menurunkan kesuburan. Merokok atau pemakaian marijuana, konsumsi alkohol dan kokain dapat menurunkan kualitas semen dan konsentrasi testosteron. Beberapa obat-obatan juga mempunyai efek gonadotoksin seperti; cimetidine, spironolactone, nitrofurans, sulfasalazine, erythromycin, tetracyclines dan agen kemoterapi.  Penyebab terjadinya infertilitas pada pria menurut data dari WHO  
Faktor Penyebab
Angka kejadian (%)
Faktor seksual
1.7
Infeksi urogenital
6.6
Kelainan bawaan
2.1
Faktor dapatan
2.6
Varicocele
12.3
Gangguan hormon
0.6
Faktor imunologi
3.1
Kelainan lain
3
Sindrom Oligozoospermia, Asthenozoospermia dan Teratozoospermia
75.1
 Keadaan penyebab infertilitas tersebut dapat diketahui dengan cara pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium merupakan bagian penting untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya kelainan pada setiap proses reproduksi. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan untuk evaluasi kesuburan pria adalah sebagai berikut:
  1. Analisa sperma
  2. Urinalisis
  3. Luteinizing Hormone (LH)
  4. Follicle Stimulating Hormone (FSH)
  5. Prolaktin
  6. Testosteron
  7. Antibodi anti-sperma
 Analisa SpermaKehamilan terjadi karena adanya sperma dari pria yang membuahi sel telur (ovum) wanita. Agar dapat membuahi sel telur, sperma harus berkualitas baik. Artinya, jumlahnya cukup, kualitas yang meliputi bentuk, gerakan dan kecepatannya harus baik. Sperma yang kurang baik tidak akan mampu membuahi sel telur yang letaknya cukup jauh dari vagina. Ejakulasi yang kuat saja tidak cukup, sebab kemampuan membuahi tergantung pada kualitas dan kuantitas sperma. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan analisa sperma yang akurat, maka pasien tidak boleh mengalami ejakulasi baik melalui aktivitas seksual, masturbasi ataupun pengeluaran sperma pada saat mimpi dalam waktu 2-7 hari sebelum pemeriksaan. Paling tidak perlu dilakukan 2-3 kali pemeriksaan analisa sperma dalam waktu yang berbeda sebelum menentukan normal atau tidak. Berdasarkan hasil analisa sperma dapat diketahui kelainan kelainan pada sperma seperti :
  • Oligospermia : jumlah sperma lebih kecil dari normal, normalnya jumlah sperma adalah lebih dari 40 juta/ ejakulasi
  • Asthenozoospermia : motilitas sperma kurang dari normal, motilitas sperma yang normal menurut World Health Orgaization (WHO) adalah lebih dari 50%
  • Teratozoozpermia : sperma normal kurang dari 14%
 UrinalisisPemeriksaan urinalisis membantu dalam evaluasi infertilitas pria karena dengan pemeriksaan ini dapat melihat apabila ada retrogade ejaculation (ejakulasi balik) selain dapat mengetahui infeksi prostat dan saluran kemih. Retrogade ejaculation adalah suatu keadaan di mana terjadi kelainan pada saluran keluarnya sperma mengakibatkan sperma tidak keluar sebagaimana mestinya melainkan masuk dan keluar melalui saluran kemih. Hormon (LH, FSH, Prolaktin dan Testosteron)Pemeriksaan hormon di dalam evaluasi infertilitas bermanfaat untuk mengetahui apabila terdapat kelainan hormon yang mempengaruhi reproduksi pria. Misalnya apabila terjadi peningkatan LH diatas normal dapat berguna sebagai petunjuk terhadap kemungkinan :
  • Gagal testis primer
  • Seminiferous tubule dysgenesis (sindrom klinifelter)
  • Sertoli cell failure
Contoh lain adalah prolaktin, apabila prolaktin tinggi pada pria maka dapat menghambat dikeluarkannya hormon-hormon seks (testosteron, LH, FSH) yang berakibat pada terganggunya pembentukan sperma (spermatogenesis) atau dapat pula menyebabkan impotensi. Antibodi anti-spermaPada kasus infertilitas akibat adanya antibodi anti-sperma ini  awalnya adalah karena terbentuknya antibodi terhadap sperma pada laki-laki. Antibodi terhadap sperma merupakan fenomena autoimun, karena sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen tubuhnya sendiri yaitu sperma. Antibodi terhadap sperma dapat ditemukan dalam darah, cairan semen maupun pada permukaan sperma sehingga sperma mati sebelum dapat membuahi sel telur. Antibodi terhadap sperma ini biasanya dijumpai pada beberapa pria dengan penyakit testikular dan penyakit autoimun spermatogenesis. Masih ada secercah harapan bagi pria yang dinyatakan secara medis infertil. Saat ini berbagai teknik dan teknologi kedokteran dikembangkan untuk mengatasi gangguan reproduksi pada pria. Beberapa pria infertil yang menjalani pengobatan maupun pembedahan  dapat mengalami perbaikan dan dapat melakukan konsepsi alami. Di lain pihak kelainan sperma dapat diatasi dengan inseminasi intrauterin. Ketika semua usaha tersebut sudah tidak lagi bermanfaat maka teknologi modern seperti Assisted Reproductive Technologies (ART) masih memberikan harapan untuk berhasil. Fertilisasi invitro atau bayi tabung menggunakan  Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) melibatkan sperma tunggal yang secara langsung disuntikkan pada sel telur yang matang  sehingga masih memberi harapan pria infertil untuk memiliki anak. Inseminasi buatan menggunakan donor sperma, merupakan pilihan terakhir untuk pasangan dengan pria infertil.   

Infertilitas atau mandul?

INFERTILITAS PENGERTIAN FERTILITAS : kemampuan seorang istri utk mjd hamil & melahirkan anak hidup oleh suami yg mampu menghamilinya INFERTILITAS PRIMER : istri blm pernah hamil walaupun dg koitus


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar